Minggu, 20 Mei 2018

PENJELASAN TIGA GELAR DAN HAKEKAT “SUNAN PANDANARAN” YANG SERING DIPERTANYAKAN MASYARAKAT UMUM


Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Banyak orang yang bingung dan mempertanyakan tentang Sunan Pandanaran berasal dari mana, silsilahnya bagaimana, dan semacamnya. Tulisan ini ingin sedikit mengupas tentang TIGA GELAR SUNAN PANDANARAN, yakni: Sunan Pandanaran I (Satu), Sunan Pandanaran II (Dua), dan Sunan Pandanaran III (Tiga). Saya pribadi sebagai generasi trah keturunan Sunan Pandanaran II/Sunan Tembayat ingin mengungkap itu semua dalam bentuk tulisan yang semoga bisa mencerahkan semua pihak yang mempertanyakannnya. Semoga tercerahkan!!!.
(Shofwan, 2018)

Hingga kini, masih banyak yang mempertanyakan SUNAN PANDANARAN itu siapa, dari mana beliau berasal dan lain sebagainya. Perlu diketahui bahwa gelar SUNAN PANDANARAN itu dipakai oleh tiga orang yang berbeda, tetapi memiliki pertalian famili kekeluargaan yang sangat erat dan dekat sekali. Oleh karena itulah, saya selaku generasi trah keturunan dari Sunan Pandanaran II (Sunan Tembayat atau Susuhunan Ing Tembayat) ingin menuliskan dan menjelaskan tiga gelar/julukan SUNAN PANDANARAN itu satu-persatu sebagaimana tersebut di bawah ini:

1.   SUNAN PANDANARAN I
Sunan Pandanaran I (Satu) merupakan putra dari Prabu Brawijaya V (Sang Raja Terakhir Kerajaan Majapahit) dan bernama asli JOKO SUPENO. Beliau ini merupakan Pendiri Kota Semarang. Haulnya selalu diperingati oleh para pejabat Kota Semarang setiap tahun sebagai PENDIRI KOTA SEMARANG. Sunan Pandanaran I (Satu) ini dimakamkan di Kelurahan Randusari, Mugasari, Semarang Selatan. Sunan Pandanaran I (Satu) ini memiliki istri bernama Nyai Endang Sejanila dan memiliki beberapa anak serta menantu. Salah satu menantu Sunan Pandanaran I (Satu)/ Joko Supeno Bin Brawijaya V adalah Sunan Pandanaran II (Dua) atau yang lebih dikenal dengan “SUNAN TEMBAYAT” sebab banyak mengajarkan patembayatan/ pirukunan/ gotong-royong terhadap sesama manusia tanpa pandang bulu. Yakni, tanpa memandang agama, suku, budaya, etnis dan semacamnya.

2.   SUNAN PANDANARAN II
Sunan Pandanaran II (Dua) merupakan menantu dari Sunan Pandanaran I (Satu). Beliau inilah yang akhirnya menjadi murid Sunan Kalijogo dan terkenal dengan sebutan “SUNAN TEMBAYAT” yang makamnya berada di Paseban, Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Sunan Pandanaran II (Dua) atau yang lebih dikenal dengan Sunan Tembayat ini merupakan putra Sayyid Maulana Hamzah (Pangeran Tumapel) Lamongan Bin Sunan Ampel Surabaya, dan bernama asli SAYYID HASAN NAWAWI dan biasa disebut RADEN KAJI. Dalam kehidupannya, Sunan Tembayat ini pernah menikah sebanyak sembilan (9) kali, termasuk menikahi putri tercantik dari Sunan Pandanaran I (Satu) Sang Pendiri Kota Semarang. Dan ketika di Bayat-Klaten, Sunan Pandanaran II (Dua) ini memiliki dua istri, yaitu: (1) Nyai Ageng Kaliwungu Binti Bathoro Kathong, dan (2) Nyai Ageng Krakitan. Dan saya termasuk memiliki darah dari Sunan Pandanaran II/Sunan Tembayat dengan istrinya yang bernama Nyai Ageng Kaliwungu Binti Bathoro Kathong tersebut (bisa dilihat silsilahnya di bawah nanti). Dan perlu diketahui bahwa Sunan Pandanaran II (Sunan Tembayat) ini masih merupakan keponakan Sunan Kalijogo dari jalur istrinya Sayyid Maulana Hamzah (Pangeran Tumapel) Lamongan.

3.   SUNAN PANDANARAN III
Sunan Pandanaran III (Tiga) ini merupakan pengganti jabatan Adipati Semarang setelah ditinggal Sunan Pandanaran II/Sunan Tembayat yang rela melepaskan semua harta, wanita, dan tahta untuk menyusul dan berguru kepada Sunan Kalijaga di Puncak Jabalkat Gunung Cokro Kembang Klaten-Jateng. Sunan Pandanaran III (Tiga) sering disebut PANGERAN MANGKUBUMI ini merupakan putra dari Sunan Pandanaran II Bin Brawijaya V dan dimakamkan di IMOGIRI. Jadi, setelah Kadipaten Semarang ditinggal Sunan Pandanaran II/Sunan Tembayat, lalu jabatan Adipati Semarang dipegang oleh SUNAN PANDANARAN III (PANGERAN MANGKUBUMI) yang merupakan adik ipar dari Sunan Pandanaran II/Sunan Tembayat.

Sebagaimana janji saya menyajikan silsilah saya, maka berikut ini merupakan silsilah saya (Arif Muzayin Shofwan) yang merupakan trah generasi keturunan Sunan Pandanaran II (Sunan Tembayat) Klaten, Jawa Tengah dari dua jalur keturunan. Yakni, dari jalur Mbah Kyai Raden Taklim (Kauman, Srengat, Blitar) menempati generasi ke-15 dari Sunan Pandanaran II/Sunan Tembayat. Sedangkan dari jalur Mbah Kyai Raden Witono/Syaikh Hasan Ghozali (Kauman, Kalangbret, Tulungagung) menempati generasi ke-16 dari Sunan Pandanaran II/Sunan Tembayat. 

Silsilah dari jalur Mbah Kyai Raden Taklim Srengat Blitar
1.    Sunan Pandanaran II (Sunan Tembayat) + Nyai Ageng Kaliwungu Binti Bathoro Kathong, berputra:
2.    Raden Panembahan Djiwo (Sayyid Raden Ishaq) Ing Tembayat, berputra:
3.    Panembahan Minang Kabul Ing Tembayat, berputra:
4.    Pangeran Ragil Kuning (Raden Ragil Sumendi), Wonokerto, Ponorogo, berputra:
5.    Pangeran Wongsodriyo/Pangeran Wongsopuro, berputra:
6.    Kyai Ageng Raden Nojo/Noyo Semanding, berputra:
7.    Kyai Ageng Raden Donopuro (guru dari Kyai Ageng Muhammad Besari/ Kasan Besari I Ponorogo), berputra:
8.    Mbah Kyai Raden Taklim (penghulu Srengat), berputra:
9.    Mbah Kyai Raden Muhammad Qosim (Eyang Kasiman), Pendiri Masjid Agung Kota Blitar, berputra:
10. Mbah Kyai Muhammad Syakban atau biasa dikenal dengan sebutan “Mbah Syakban Gembrang Serang” atau “Mbah Syakban Tumbu” (makamnya berada di Makam Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar), berputra:
11. Mbah Kyai Muhammad Asrori, yakni pendiri dan cikal-bakal “Masjid Al-Asror” Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat, Blitar, berputra:
12. Mbah Nyai Tsamaniyyah (istri dari Mbah Kyai Imam Muhtar atau Kyai Hasan Muhtar, Kerjen, Srengat, Blitar), berputra:
13. Mbah Nyai Artijah (istri dari Mbah Muhammad Thahir dari Wonodadi) dan bermukim di Kerjen, Srengat, Blitar, berputra;
14. Mbah H. Tamam Thahir (suami dari Nyai Hj. Siti Rofiah Sekardangan, Kanigoro, Blitar).
15. Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd.

Silsilah dari jalur Mbah Kyai Raden Witono Tulungagung
1.     Sunan Pandanaran II (Sunan Tembayat) + Nyai Ageng Kaliwungu Binti Bathoro Kathong, berputra:
2.     Raden Panembahan Djiwo (Sayyid Raden Ishaq) Ing Tembayat, berputra:
3.     Panembahan Minang Kabul Ing Tembayat, berputra:
4.     Pangeran Ragil Kuning (Raden Ragil Sumendi) Wonokerto, Ponorogo, berputra:
5.     Pangeran Wongsodriyo/Pangeran Wongsopuro, berputra:
6.     Kyai Ageng Raden Nojo/Noyo Semanding, berputra:
7.     Kyai Ageng Raden Donopuro (guru dari Kyai Ageng Muhammad Besari/ Kasan Besari I Ponorogo), berputra:
8.     Mbah Kyai Mangun Witono/ Sayyid Hasan Ghozali, makamnya berada di belakang “Masjid Tiban Al-Istimrar” Kauman, Kalangbret, Tulungagung, berputra:
9.     Mbah Kyai Nur Ali Rahmatullah, berputra:
10.  Mbah Kyai Ali Muntoho (cikal-bakal desa Jarakan, Gondang, Tulungagung), berputra:
11.  Nyai Mursiyah (istri dari Mbah Kyai Muhammad Syakban/ Mbah Syakban Gembrang Serang/ Mbah Syakban Tumbu bin Kyai Muhammad Qosim Penghulu Pertama Blitar), berputra:
12.  Mbah Kyai Muhammad Asrori pendiri “Masjid Al-Asror” Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat, Blitar (suami dari Nyai Haditsah Binti Muhammad Yunus Srengat. Nyai Haditsah ini juga masih trah keturunan Sunan Tembayat pula dari jalur yang berbeda), berputra:
13.  Mbah Nyai Tsamaniyyah (istri dari Mbah Kyai Hasan Muhtar, Kerjen, Srengat, Blitar), berputra;
14.  Mbah Nyai Artijah (istri dari Mbah Muhammad Thahir dari Wonodadi, Srengat, Blitar) dan bermukim di Kerjen, Srengat, Blitar, berputra:
15.  Mbah H. Tamam Thahir (suami dari Nyai Hj. Siti Rofiah Sekardangan, Kanigoro, Blitar).
16.  Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd.

Keterangan Silsilah
Silsilah nasab tersebut diadopsi dari berbagai sumber dengan pengurutan generasi ke generasi seperlunya, di antaranya dari: (1) Lembaran Silsilah “Keluarga Kyai Raden Muhammad Qosim/ Eyang Kasiman” yang tersimpan di Yayasan Kyai Raden Muhammad Kasiman sebelah Utara Masjid Agung Kota Blitar; (2) Buku berjudul “Silsilah Sunan Tembayat Hingga Syaikh Muhammad Sya’ban Al-Husaini” karya Abu Naufal bin Tamam At-Thahir; (3) Buku berjudul “Ranji Walisongo Jilid IV: Mengungkap Fakta, Meluruskan Sejarah” karya Raden Ayu Linawati dan disusun oleh Mas Muhammad Shohir Izza Solo, Jawa Tengah; (4) Buku berjudul “Silsilah Nasab Kyai Soeroredjo Kauman Blitar” karya Arif Muzayin Shofwan dan Putu Ari Sudana; serta Lembaran berjudul “Sejarah Singkat Mbah Kyai Asror Pakisrejo, Srengat” yang dikeluarkan pada tanggal 15 Juli 1984.
          Demikianlah penjelasan tentang TIGA GELAR SUNAN PANDANARAN yang dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Sunan Pandanaran I / Joko Supeno Bin Brawijaya V dimakamkan di Mugasari, Semarang Selatan; (2) Sunan Pandanaran II / Sayyid Hasan Nawawi Bin Maulana Hamzah Bin Sunan Ampel yang terkenal dengan sebutan “Sunan Tembayat” dimakamkan di Bayat-Klaten, dan (3) Sunan Pandanaran III Tiga Bin Sunan Pandanaran I Satu yang sering disebut “Pangeran Mangkubumi” ini dimakamkan di Imogiri. Semoga keterangan ini bisa mencerahkan semua masyarakat yang masih bertanya-tanya tentang Sunan Pandanaran. Semoga semua keluarga dan keturunan SUNAN PANDANARAN, baik Sunan Pandanaran I (Satu), Sunan Pandanaran II (Dua), dan Sunan Pandanaran III (Tiga) selalu diberi kekuatan dan kesabaran dalam menjalani kehidupan di dunia ini serta diberi limpahan rejeki yang tak terhingga dari Tuhan Yang Maha Pemberi Rejeki. Amiiin. []

“If you can dream it you can do it”
(Jika kamu dapat bermimpi, kamu dapat melakukannya)
“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”

(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)

Tiga Gelar Sunan Pandanaran I, II, III (Dokumentasi, 2018)
 
Silsilah Trah Sunan Tembayat Kuno (Dokumentasi, 2018)

Biografi Penulis
Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd merupakan Wakil Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) PCNU Kabupaten Blitar. Dia juga dosen di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar pada mata kuliah Aswaja dan Ke-NU-an, Pendidikan Agama Islam, dan lainnya. Selain itu, dia merupakan Anggota Tim Inti Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang, 2013-2016; Ketua Divisi Pluralisme dan Multikulturalisme The Post Institute Blitar, 2012-sekarang; Pendiri Pusat Studi Desa dan Pemberdayaan Masyarakat (PUSDEMAS) UNU Blitar, dan lainnya. Pria yang punya hobi menulis ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Kode Pos 66171, Jawa Timur. HP. 085649706399.

6 komentar:

  1. terimakasih pak atas sharing ilmunya.
    Maaf, bolehkah saya menghubungi/berkomunikasi dg bapak via WA/telpon...?

    BalasHapus
  2. Untuk ki ageng pandanarang 4 kok tdk ada njih.mhn penjelasanya.

    BalasHapus
  3. ada yang nama nya ndoro harto di bayat

    BalasHapus
  4. mohon pencerahan apakah ada keturunan ki Ageng Pandanarang yg di kediri?

    BalasHapus
  5. Saya ingin bertanya silsilah sunan tembayat sampai ke buyut saya sontodikromo...trims

    BalasHapus
  6. Mohon petunjuk silsilah dari Pangeran Sumendi - Panembahan R. Imanudin

    BalasHapus