Minggu, 23 Juli 2017

SEKILAS TENTANG PADEPOKAN PADANG JIWO DAN JAM’IYAH TERONG DI DUSUN SEKARDANGAN DESA PAPUNGAN KECAMATAN KANIGORO KABUPATEN BLITAR PROPINSI JAWA TIMUR



Oleh: Arif Muzayin Shofwan 

“Padepokan Padang Jiwo menjadikan jiwa-jiwa manusia menjadi padang njingglang tercerahkan. Jam’iyah Terong menjadikan jiwa-jiwa manusia bagaikan sambel Terong yang gurih-gurih pedas dan enak di lidah penggemarnya.”
(Anonim)


Pada tahun 2005, terbentuklah sebuah jamaah dzikir tahlil yang diberi nama “Jam’iyah Terong” rutin tiap malam Jumat di Makam Mbah Kyai Imam Fakih sebelah Barat Masjid Baitul Makmur Sekardangan. Usai berzikir tahlil di makam tersebut kemudian dilanjutkan acara pengajian yang dilaksanakan di serambi masjid. Setelah pengajian selesai, lalu diadakan “Kembul Bujono” dengan menu khas sambel Terong. Oleh karena ciri khas inilah, maka jamaah tersebut dinamakan “Jam’iyah Terong”. Dan perlu diketahui bahwa jam’iyah ini didirikan oleh Mbah Yasin Fakih beserta kawan-kawannya, termasuk di dalamnya adalah Kyai Muhammad Tasrifin, Ki Bagus Arief (Arif Muzayin Shofwan), dan lain sebagainya. Berikut struktur kepengurusan Padepokan Padang Jiwo dan Jam’iyah Terong di Sekardangan pada masa awal berdirinya, yakni tahun 2005/2006:

Ketua Padepokan     : Mbah Yasin Fakih
Wakil Ketua            : Kyai Tasrifin
Sekretaris               : Ki Bagus Arief
Bendahara              : Kang Zainal

Catatan: Mbah Yasin Fakih sendiri merupakan putra dari Mbah Kyai Haji Abbas Fakih dan merupakan cucu Mbah Kyai Imam Fakih (yakni; Pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda dan Masjid Baitul Makmur di dusun Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar). Bila diruntut dari jalur Mbah Nyai Muti’ah (istri Mbah Kyai Imam Fakih), maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Mbah Yasin Fakih (Sang Ketua Padepokan Padang Jiwo dan Jam’iyah Terong) masih merupakan keturunan dari Sunan Giri (Maulana Ainul Yaqin/Raden Paku), Gresik, Jawa Timur. Mbah Yasin Fakih juga merupakan keturunan dari Mbah Kyai Nur Iman Mlangi (Raden Sandeyo, Sang Pendiri Masjid Patok Negoro), Kraton Jogjakarta. Maka tak heran bila Mbah Yasin Fakih selalu memiliki minat meneruskan dakwah Islam sebagaimana leluhurnya.

Selanjutnya, pada tahun 2006 Jam’iyah Terong mengembangkan usahanya dengan mendirikan “PADEPOKAN PADANG JIWO” yang terletak di dekat kolam dan sungai sebelah Selatan, yakni perbatasan antara dusun Sekardangan dan desa Tlogo. Padepokan yang terbuat dari bahan cor semen tersebut hingga kini masih sangat nyaman untuk dipakai sebagai olah kebatinan, tapa brata dan semacamnya. Lokasi padepokan yang sejuk dan asri dengan suara Kodok, Jangkrik di malam hari tersebut sangat mendukung untuk penempuhan spiritual seperti dzikir kepada Allah, mengaji kitab, tafakur (meditasi atau semedi), dan semacamnya.

Setelah keberadaan padepokan sempat terbengkelai beberapa tahun, lalu pada tahun 2017 ada inisiatif dari Mbah Yasin Fakih, Ki Wahib Marwah, Ki Syahrul Hujat, Gus Masykur, dan Ki Nuruddin untuk menghidupkan kembali “PADEPOKAN PADANG JIWO”, di samping juga ada tujuan memelihara ikan di kolam sebelah Selatannya. Berawal dari inisiatif empat orang inilah, maka keberadaan Padepokan Padang Jiwo kembali dibersihkan bersama-sama. Dalam hati para inisiator tersebut ada harapan yang sangat mulia agar semua manusia atau makhluk yang ada di bumi ini selalu mendapatkan “Pepadanging Jiwo”, artinya tercerahkan hatinya dari segala kegelapan dan kekotoran batin yang selalu menyelimuti jiwanya. Jadi, inisiator menghidupkan Padepokan Padang Jiwo pada tahun 2017 antara lain:

1.    Mbah Yasin Fakih (Sang Ketua Pendiri Padepokan)
2.    Ki Bagus Arief (Sekretaris)
3.    Ki Wahib Marwah (Divisi Perkolaman)
4.    Ki Syahrul Hujjat (Divisi Pelistrikan)
5.    Ki Nuruddin (Divisi Perokokan)
6.    Gus Masykur (Divisi Perpaculan)

Akhir kata, demikianlah sekilas tentang sejarah “PADEPOKAN PADANG JIWO” yang berada di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09, Papungan, Kanigoro, Blitar, mulai awal didirikan yakni 2005/2006 hingga kebangkitannya pada tahun 2017. Teriring doa, mudah-mudahan siapapun saja yang pernah datang di Padepokan Padang Jiwo selalu diberi “Pepadanging Jiwo” artinya tercerahkan jiwanya. Mudah-mudahan Allah selalu memberikan rejeki yang berlimpah ruah bagi siapa saja yang pernah berdzikir di Padepokan Padang Jiwo. Terakhir, mudah-mudahan keberadaan “PADEPOKAN PADANG JIWO” akan selalu menyinari jiwa-jiwa warga dusun Sekardangan khususnya, dan umumnya semua makhluk Tuhan di seluruh alam semesta. Amiin. Salam Padang Jiwo!!.

“If you can dream it you can do it”
(Jika kamu dapat bermimpi, kamu dapat melakukannya)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)

Padepokan Padang Jiwo di Sekardangan RT. 03 RW. 09 desa Papungan, Kanigoro, Blitar (Dokumentasi, 2017)
 
Kembul Bujono (Makan Bersama) di Padepokan Padang Jiwo Sekardangan (Dokumentasi, 2017)
Keberadaan Padepokan Padang Jiwo difoto dari jarak sekitar 8 meter. Tampak di depannya terdapat kolam ikan yang dikelola oleh Ki Wahib Marwah Sang Divisi Perkolaman (Dokumentasi, 2017)
 
Tampak sebuah kalender Ponpes. Bustanul Mutaallimin Dawuhan Blitar 2017 terpampang di dinding Padepokan Padang Jiwo Sekardangan, Kanigoro, Blitar (Dokumentasi, 2017)
 
Tentang Penulis

Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang juga disebut “Ki Bagus Arief” dalam komunitas Padepokan Padang Jiwo dan Jam’iyah Terong ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria ini pada akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 bersama kawan-kawannya (seperti Yaoma Tertibi, SH., Winarto, M.Pd.I., Lussy Ana Anggarani, M.Pd., Alfiah, SE., Eka Rahmawati, M.Pd., Mohammad Miftakhul Rochman, M.Pd., Muhammad Zainal Abidin, M.Ag dan lainnya) tercatat sebagai Tim Pendiri Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar dengan empat program studi, antara lain: (1) Prodi Hukum Tata Keluarga Islam; (2) Prodi Perbankan Syariah; (3) Prodi Komunikasi Penyiaran Islam; dan (4) Prodi Ekonomi Islam. Selain itu, pria pecinta teh ini juga merupakan penggagas pertama Pusat Studi Desa dan Pemberdayaan Masyarakat (PUSDEMAS) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar bersama Yaoma Tertibi, SH. Pria yang yang sering mengikuti berbagai kajian kebebasan beragama dan HAM serta diskusi lintas agama baik lokal maupun nasional tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.



Selasa, 04 Juli 2017

DARI ZIARAH MAKAM MBAH KYAI IMAM SYAFAAT KAUMAN-KESAMBEN, MBAH KYAI IMAM PUTIH CIKAL-BAKAL SELOREJO-BLITAR HINGGA MAKAM SENTONO LODOYO-BLITAR



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

 “Ini merupakan sebuah catatan ketika saya, bersama rombongan pemuda dari Yayasan Kyai Raden Muhammad Kasiman Kota Blitar bersilaturrahmi ke berbagai saudara hingga bersilaturrahmi kepada para sesepuh dan berziarah ke makam-makam para tokoh agung.” (Shofwan, 2017)


          Pada hari Kamis, 29 Juni 2017 bertepatan dengan hari Raya Idul Fitri hari ke-5, kami (Saya, Mas Putu Ari Sudana Garum [sponsor], Mbah Tatok Kalipucung, Mas Lukie Gaprang) dengan pakai mobil Panter langsung menuju rumah Mas Cholis Kawedanan Wlingi. Mas Kholis kemudian ikut dalam rombongan mobil Panter tersebut. Setelah itu, kami meluncur ke rumah Mas Kuncoro Aji Kauman, Kesamben. Karena hari ini memang Hari Raya Idul Fitri, maka rangkaian acara hari ini bersilaturrahmi dan berziarah ke makam para sesepuh. Di rumah Mas Kuncoro Aji yang dekat dengan Masjid Al-Ikhlas Kauman, Kesamben, kami lalu berziarah ke makam para tokoh yang dimakamkan di barat masjid tersebut, terutama tokoh punjer atau tokoh soko guru, yaitu Mbah Kyai Imam Syafaat dan Mbah Nyai Woeryan, beserta para keturunannya.

          Usai bersilaturrahmi ke rumah Mas Kuncoro Aji dan ziarah makam Mbah Kyai Imam Syafaat dan Mbah Nyai Woeryan, kami kemudian berniat silaturrahmi ke rumah Bapak Markam di Selorejo-Blitar. Dan Mas Kuncoro Aji juga ikut dalam acara kami yang kedua ini. Sesampai di rumah Bapak Markam Selorejo, kami pun juga berbincang-bincang dengan keluarga Bapak Markam, di antaranya Mas Gatut dan istrinya. Di kediaman Bapak Markam ini kami juga diberi hidangan bakso yang sangat enak dan lezat. Usai makan bakso dan bincang-bincang sebentar, kami lalu berziarah ke makam Mbah Kyai Imam Putih yang merupakan salah satu cikal-bakal Selorejo-Blitar. Makam ini berada di belakang rumah Bapak Markam, karena Bapak Markam ini juga masih trah keluarga Mbah Kyai Imam Putih tersebut. Istri Bapak Markam pun juga dimakamkan dalam areal makam Mbah Imam Putih tersebut, begitu juga kakek-kakeknya.

          Setelah berziarah ke makam Mbah Kyai Imam Putih (salah satu cikal-bakal Selorejo-Blitar), kami kemudian menghantarkan Mas Aji Kuncoro kembali lagi ke Kauman-Kesamben. Setelah itu, kami lalu meluncur ke rumah Bapak Tatok Triwibosono (Mantan Camat Kecamatan Wlingi-Blitar) Kauman-Wlingi yang juga masih keluarga Yayasan Kyai Raden Muhammad Kasiman dari jalur Mbah Mangunharjo. Di rumah Bapak Tatok Triwibisono ini, kami juga dipersilahkan makan dengan berbagai lauk-pauk seperti ikan Gurami. Kami melakukan shalat Dhuhur pun juga di kediaman Bapak Tatok Triwibisono Klemunan-Wlingi ini. Setelah makan dan melakukan shalat Dhuhur, kami kemudian mohon pamit untuk meneruskan perjalanan silaturrahmi ke rumah KH. M. Asrori dan KH. Isbah Salimi yaitu mushalla yang berada di Utara Kawedanan-Lodoyo dan ziarah ke “Makam Sentono Lodoyo” Blitar-Jatim.

Sesampai di rumah KH. M. Asrori dan KH. Isbah Salimi sudah waktu Asyar. Kami pun mengerjakan shalat Asyar berjamaah di mushalla yang berada di depan rumah KH. M. Asrori tersebut. Usai shalat Asyar berjamaah kami lalu berbincang-bincang dalam rumah KH. M. Asrori bersama istrinya dan KH. Isbah Salimi. Wah ternyata KH. M. Asrori dan KH. Isbah Salimi ternyata masih merupakan keponakan Mbah KH. Hamzah (pondoknya berada di sebelah barat jarak 500 M), dan makamnya berada di “Makam Tambak Ngadi” Kediri. Mbah KH. Hamzah Lodoyo ini juga masih trah keturunan Sunan Tembayat (Sayyid Hasan Nawawi) Klaten, Jawa Tengah. Jasad beliau ketika sudah meninggal dunia memang diminta oleh Gus Miek (KH. Hamim Jazuli Ploso-Kediri) untuk dimakamkan di “Makam Tambak Ngadi” Kediri. Begitulah cerita mengapa Mbah KH. Hamzah dimakamkan di Makam Tambak Ngadi Kediri.

Setelah kami pamit kepada KH. M. Asrori, lalu kami berziarah ke “Makam Sentono Lodoyo” yang berjarak kurang lebih 1,5 KM ke arah Selatan. Di makam ini, kami semua menggali situs para tokoh yang dimakamkan di tempat tersebut. Yakni, mulai dari ketokohan Pangeran Prabu (Sang Tokoh Pembawa Gong Kyai Pradah) dari Surakarta. Juga menggali ketokohan Mbah Kyai Imam Sampurno, Habib Maulana Kamaluddin, Ki Ageng Muhammad Badri, Eyang Sroya, Mbah Boimen (Wali Wedok), Mbah Kyai Ali Mahfudz, Ki Ageng Sutojoyo (Cikal-bakal Sutojayan-Lodoyo), Mbah Bontar (Mbah Kyai Kasan Besari), dan  lain-lainnya. Di areal makam ini pula, saya juga menunjukkan makam Syaikh Abu Naim Fathullah (Eyang Setro Manggolo) yang berada di selatan sungai. Dan masih banyak lagi yang kami diskusikan saat itu.

Setelah berziarah ke “Makam Sentono Lodoyo”, kami lalu meneruskan bersilaturrahmi ke rumah Bapak Herry Bintarto (kakak Bapak Tatok Triwibisono) yang berada di barat Pasar Legi Kota Blitar. Di rumah Bapak Herry Bintarto kami bincang-bincang cukup lama tentang perkembangan Yayasan Kyai Raden Muhammad Kasiman yang berada di utara Masjid Agung Kota Blitar. Setelah kami cukup dengan bincang-bincang kami, kami kemudian bersilaturrahmi di beberapa rumah keluarga Bani Mbah Abu Yamin (juga trah dari Kyai Raden Muhammad Kasiman) yang berada di deretan Utara Masjid Agung Kota Blitar, termasuk ke rumah Mas Muhsin Rifa’i, namun rumahnya tutupan. Di rumah inilah kami melakukan shalat Maghrib. Dan setelah cukup lama, kami bincang-bincang di rumah para keturunan Bani Mbah Abu Yamin, kami semua mohon pamit untuk pulang dan menuju ke rumah Mas Ilham Rofii (Masjid Jatimalang-Blitar). Setelah itu menuju ke rumah Mas Putu Ari Sudana Tawangsari-Garum.

Sebab hari itu sudah Isyak, kami berniat mengakhiri acara hari ini. Seperti awalnya, kami menuju rumah Mas Putu Ari Sudana di Tawangsari-Garum. Sebab kendaraan motor kami semua berada di sana. Setelah itu, kami mengeluarkan motor-motor kami semua dan llangsung pulang menuju rumah masing-masing. Begitulah kiranya, dan mungkin ini saja catatan harian (cahar) saya hari ini. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberkati apa yang saya tulis ini. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengasih selalu mengasihi semua hamba-Nya. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengampun selalu mengampuni kesalahan saya dalam menulis catatan harian (cahar) saya ini. Mudah-mudahan kegiatan saya hari ini, semuanya saja, selalu membawa berkah sepanjang zaman, di kehidupan dunia dan akhirat. Amin, amin, amin, Yaa Rabbal Alamiin.


 “If you can dream it you can do it”
(Jika kamu dapat bermimpi, kamu dapat melakukannya)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)

Areal Makam Mbah Kyai Imam Putih, salah satu Cikal-bakal Selorejo-Blitar (Dokumentasi, 2017)
Inilah Makam Mbah Kyai Imam Putih Salah Satu Cikal Bakal Selorejo-Blitar (Dokumentasi, 2017)
Berfoto dengan Bapak markam duduk di tengan, samping kirinya adalah Mas Gatut, dan samping kanannya adalah Mas Kholis. Berdiri dari kiri: Mbah Tatok Kalipucung, Mas Kuncoro Aji Kauman-Kesamben, Arif Muzayin Shofwan Sekardangan (tengah), Mas Putu Ari Sudana Tawangsari-Garum, dan teman Mas Ari yang nyupir Panter (Dokumentasi, 2017)
Berfoto di depan mushalla KH. M. Asrori Lodoyo, urut dari kiri: Nyai Asrori, Mas Putu Ari Sudana, Mbah Tatok, KH. M. Asrori, Mas Kholis, Arif Muzayin Shofwan, temannya Mas Ari yang nyopir mobil Panter (Dokumentasi, 2017)
 
Berfoto di teras rumah Bapak Tatok Triwibisono (Mantan Camat Wlingi-Blitar). Saya sedang tidur merebahkan badan karena capek (Dokumentasi, 2017)
Bapak Marham Selorejo beserta keluarga (Dokumentasi, 2017)
Berfoto di keluarga besar Bani Mbah Kyai Abu Yamin Jl. Semeru Utara Masjid Agung Kota Blitar (Dokumentasi, 2017)
 
Tentang Penulis

Arif Muzayin Shofwan, seorang pria ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria ini pada akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 bersama kawan-kawannya (seperti Yaoma Tertibi, SH., Winarto, M.Pd.I., Lussy Ana Anggarani, M.Pd., Alfiah, SE., Eka Rahmawati, M.Pd., Mohammad Miftakhul Rochman, M.Pd., Muhammad Zainal Abidin, M.Ag dan lainnya) tercatat sebagai Tim Pendiri Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar dengan empat program studi, antara lain: (1) Prodi Hukum Tata Keluarga Islam; (2) Prodi Perbankan Syariah; (3) Prodi Komunikasi Penyiaran Islam; dan (4) Prodi Ekonomi Islam. Selain itu, pria pecinta teh ini juga merupakan penggagas pertama Pusat Studi Desa dan Pemberdayaan Masyarakat (PUSDEMAS) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar bersama Yaoma Tertibi, SH. Pria yang yang sering mengikuti berbagai kajian kebebasan beragama dan HAM serta diskusi lintas agama baik lokal maupun nasional tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.

Senin, 03 Juli 2017

MEMBERI SAMBUTAN DALAM REONI BANI KYAI SOEROREDJO KAUMAN-BLITAR DI RUMAH BAPAK AGUS MALANG



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

 “Ini merupakan sebuah catatan ketika saya dan Mas Putu Ari Sudana beserta dua rombongan mobilnya dalam memberikan sambutan pada reono Bani Kyai Soeroredjo Kauman-Blitar di rumah Bapak Agus Malang-Jatim.” (Shofwan, 2017)


          Pada hari Selasa, 27 Juni 2017 bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri ke-3, saya diajak Mas Putu Ari Sudana beserta keluarganya untuk mengisi sambutan dalam Reoni Bani Kyai Soeroredjo Kauman-Blitar, di rumah Bapak Agus Malang. Dalam acara reoni ini juga diadakan tasyakuran Bapak Agus dan istrinya untuk yang pada tahun ini akan berangkat berhaji di Makah, Saudi Arabia. Mas Putu Ari Sudana pertama kali menjemput saya di rumah. Kemudian mengajak saya menuju “Joglo Mbah Saeun” di Kauman, Blitar. Kemudian, setelah itu kami semua naik mobil ELP yang sudah di parkir di pinggiran Jl. Semeru Kota Blitar.

          Dalam acara Reoni Bani Kyai Soeroredjo Kauman-Blitar yang dilaksanakan di rumah Bapak Agus Malang tersebut, saya memberi sambutan dan menerangkan buku yang berjudul “Silsilah Nasab Kyai Soeroredjo (Dari Sunan Tembayat Hingga Rasulullah SAW)” yang saya susun bersama Mas Putu Ari Sudana. Tak menerangkan itu saja, saya juga menjelaskan bahwa Mbah Kyai Soeroredjo Kauman merupakan trah dari Sunan Tembayat (Sayyid Hasan Nawawi) Klaten, Jawa Tengah. Dan banyak lagi yang saya jelaskan, mulai dari trah ke atas Mbah Kyai Soeroredjo yaitu Mbah Kyai Abdul Hadi, Mbah Kyai Hasan Ali Mustofa (Jaksa Pertama Kota Blitar) dan lain sebagainya. Saya juga berpesan, kalau ada keluarga ingin berziarah ke makam-makam leluhur tersebut bisa menghubungi Mas Putu Ari Sudana.

Mungkin ini saja catatan harian (cahar) saya hari ini. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberkati apa yang saya tulis ini. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengasih selalu mengasihi semua hamba-Nya. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengampun selalu mengampuni kesalahan saya dalam menulis catatan harian (cahar) saya ini. Mudah-mudahan kegiatan saya hari ini, terutama pertemuan dengan “Keluarga Besar Mbah Kyai Soeroredjo Kauman-Blitar” di rumah Bapak Agus Malang, dan semuanya saja, selalu membawa berkah sepanjang zaman, di kehidupan dunia dan akhirat. Amin, amin, amin, Yaa Rabbal Alamiin.

 “If you can dream it you can do it”
(Jika kamu dapat bermimpi, kamu dapat melakukannya)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)


Arif Muzayin Shofwan memberi sambutan dalam acara Reoni Bani Kyai Soeroredjo Kauman-Blitar dan Tasyakuran Haji di rumah Bapak Agus Malang (Dokumentasi, 2017)
 
Reoni Bani Kyai Soeroredjo Kauman-Blitar di rumah Bapak Agus Malang (Dokumentasi, 2017)
 
Mas Putu Ari Sudana sedang berfoto dalam acara Reoni Mbah Kyai Bani Soeroredjo Kauman-Blitar (Dokumentasi, 2017)

Tentang Penulis

Arif Muzayin Shofwan, seorang pria ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria ini pada akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 bersama kawan-kawannya (seperti Yaoma Tertibi, SH., Winarto, M.Pd.I., Lussy Ana Anggarani, M.Pd., Alfiah, SE., Eka Rahmawati, M.Pd., Mohammad Miftakhul Rochman, M.Pd., Muhammad Zainal Abidin, M.Ag dan lainnya) tercatat sebagai Tim Pendiri Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar dengan empat program studi, antara lain: (1) Prodi Hukum Tata Keluarga Islam; (2) Prodi Perbankan Syariah; (3) Prodi Komunikasi Penyiaran Islam; dan (4) Prodi Ekonomi Islam. Selain itu, pria pecinta teh ini juga merupakan penggagas pertama Pusat Studi Desa dan Pemberdayaan Masyarakat (PUSDEMAS) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar bersama Yaoma Tertibi, SH. Pria yang yang sering mengikuti berbagai kajian kebebasan beragama dan HAM serta diskusi lintas agama baik lokal maupun nasional tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.