Minggu, 04 Juni 2017

BERZIARAH KE MAKAM MBAH TAMAM THAHIR SEKARDANGAN, PAPUNGAN, KANIGORO, BLITAR



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

 “Ini merupakan catatan harian saya ketika berziarah bersama Mbah Jawoko Jatimalang ke makam Mbah Tamam Thahir di Pemakaman Umum dusun Sekardangan, desa Papungan, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar.”
(Shofwan, 2017)

Pada hari Kamis, 23 Mei 2017, saya berziarah ke makam Mbah Tamam Thahir di “Pemakaman Umum” dusun Sekardangan bersama Mbah Jawoko. Mbah Tamam Thahir merupakan putra ke-2 dari Nyai Artijah (istri dari Mbah Muhammad Thahir), Kerjen, Srengat, Blitar. Adapun saudara-saudara Mbah Tamam Thahir secara berurutan adalah: (1) Mbah Kusdi Thahir makamnya berada di Lereng Gunung Pegat bagian Utara, Ponggok, Blitar; (2) Mbah Tamam Thahir, makamnya berada di Pemakaman Umum dusun Sekardangan, Papungan, Kanigoro, Blitar; (3) Mbah Syafii Thahir, makamnya berada di Pemakaman Umum desa Kerjen, Srengat, Blitar; (4) Mbok Srikin Thahir, makamnya berada di Pemakaman Umum desa Kerjen, Srengat, Blitar; (5) Mbah Hajjah Masfu’ah Kerjen; dan (6) Mbah Kamsir Thahir.

Ada banyak yang saya pelajari dari perilaku baik Mbah Tamam Thahir, yaitu beliau senang bersilaturrahmi kepada sanak keluarganya di manapun berada. Yakni, keluarga dari keturunan paman-pamannya berikut, di antaranya: (1) Mbah Mustaham Pare, Kediri; (2) Mbah Mulkan Dermojayan, Srengat, Blitar; (3) Mbah Artijah Thahir, yakni ibu dari Mbah Tamam Thahir; (4) Mbah Rahmat Hadi, Pare, Kediri; (5) Mbah Muskimah, Pare, Kediri; (6) Mbah Tasringah, Candirejo, Ponggok, Blitar; (7) Mbah Ibrahim Gempolkenceng, Wonorejo, Srengat, Blitar; dan (8) Mbah Makinah, Kerjen, Srengat, Blitar. Selain itu, beliau juga dulu sering berziarah ke Makam Mbah Kyai Raden Mangun Witono (Sayyid Hasan Ghozali) berada di belakang Masjid Timban Al-Istimrar, Kauman, Kalangbret, Tulungagung. 

Tak berhenti silaturrahmi ke saudara-saudara dari pamannya saja, Mbah Tamam Thahir juga sering silaturrahmi ke berbagai saudara kakek-nya, di antaranya dari keluarga besar: (1) Mbah Nyai Hafidloh, di Gempolkenceng, Wonorejo, Srengat, Blitar; (2) Mbah Nyai Murtosinah, di Pikatan, Srengat, Blitar; (3) Mbah Nyai Muntokinah, di Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat, Blitar; (4) Mbah Kyai Abu Darda’, di Kedungcangkring, Srengat, Blitar; (5) Mbah Kyai Kasturi, di Nglangkapan, Srengat, Blitar; (6) Mbah Kyai Haji Romli, di Pakisrejo, Srengat, Blitar; (7) Mbah Nyai Turunsih, di Nglangkapan, Wonorejo, Srengat, Blitar; dan (8) Nyai Tsamaniyah Imam Muhtar, yang merupakan nenek dan kakek Mbah Tamam Thahir.

Mbah Tamam Thahir juga bersilaturrahmi ke saudara-saudaranya dari jalur Mbah Munawar Wonodadi, Blitar, di antaranya dari keluarga besar: (1) Mbah Abdullah Syahid Pikatan, Wonodadi, Blitar; (2) Mbah Kayudi Wonodadi Blitar; (3) Mbah Thahir, ayahnya sendiri yang berada di Kerjen, Srengat, Blitar; (4) Mbah Sarini di Judeg, Srikaton; (5) Mbah Siras di Rejosari; (6) Mbah Mini di Tawangrejo, Srengat, Blitar; (7) Mbah Slamet Abdul Basyar di Wonodadi, Blitar yang memiliki anak bernama Mbah Supiyan Wonodadi.

Dari garis keluarga Mbah Kyai Muhammad Asrori yakni pendiri dan cikal-bakal “Masjid Jami Al-Asror” Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat, Blitar, Mbah Tamam Thahir masih merupakan buyut dari: “Mbah Kyai Muhammad Asrori bin Mbah Kyai Muhammad Syakban bin Mbah Kyai Raden Muhammad Qosim (Eyang Kasiman) Gunung Pegat, Srengat, Blitar”. Selain itu, Mbah Tamam Thahir juga masih keturunan dari Mbah Kyai Mangun Witono (Sayyid Hasan Ghozali), Kauman, Kalangbret, Tulungagung, yakni dari jalur: “Mbah Nyai Syakban binti Mbah Kyai Ali Muntoho (cikal bakal desa Jarakan, Gondang, Tulungagung) bin Mbah Kyai Nur Ali Rahmatullah bin Mbah Kyai Mangun Witono (Sayyid Hasan Ghozali) bin Kyai Ageng Donopuro (guru dari Kyai Ageng Muhammad Besari Ponorogo)”. 

Dalam hidupnya, Mbah Tamam Thahir menjadi pengikut aliran Tharikah Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah serta pengamal “Wirid Basmallah” yang beliau peroleh dari Mbah Kyai Muhammad Danisuryo, Jeding, Sanankulon, Blitar. Ya, hanya sebagai pengikut, bukan sebagai tokoh sentral. Ya, hanya sebagai pengamal “Wirid Basmallah” dan diperkenankan mengijazahkan. Berikut saya sajikan sekedar silsilah Mbah Tamam Thahir Sekardangan, Kanigoro, Blitar, yang mungkin bisa dipakai acuan bagi keluarga atau sanak saudara di manapun berada:

1.    Sunan Ampel (Raden Rahmatullah/ Haji Bong Swie Hoo) + Dewi Karimah binti Ki Ageng Kembang Kuning Surabaya, berputra;
2.    Pangeran Tumapel (Sayyid Maulana Hamzah), berputra:
3.    Sunan Tembayat (Sayyid Hasan Nawawi/ Jaka Supang/ Jaka Pameling/ Pangeran Mangkubumi/ Ki Ageng Padang Aran II/ Raden Wahyu Widayat/ Empu Windu Jati/ Pangeran Pamungkas/ Sunan Pamungkas/ Sunan Gunung Jabalkat) + Nyai Kaliwungu binti Bathoro Kathong, berputra:
4.    Raden Panembahan Djiwo (Sayyid Raden Ishaq) Ing Tembayat, berputra:
5.    Panembahan Minang Kabul Ing Tembayat, berputra:
6.    Pangeran Ragil Kuning, Wonokerto, Ponorogo, berputra:
7.    Pangeran Wongsodriyo, berputra:
8.    Kyai Raden Nojo/Noyo Semanding, berputra:
9.    Kyai Raden Donopuro (guru dari Kyai Ageng Muhammad Besari/ Kasan Besari I Ponorogo), berputra:
10. Mbah Kyai Raden Taklim (penghulu Srengat), berputra:
11. Mbah Kyai Raden Muhammad Qosim (Eyang Kasiman), makam di Puncak Gunung Pegat Srengat dekat dengan Ndoro Tedjo dan merupakan Penghulu Blitar Pertama, berputra:
12.  Mbah Kyai Muhammad Syakban atau biasa dikenal dengan sebutan “Mbah Syakban Gembrang Serang” atau “Mbah Syakban Tumbu” (makamnya berada di Makam Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar), berputra:
13. Mbah Kyai Muhammad Asrori, yakni pendiri dan cikal-bakal “Masjid Al-Asror” Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat, Blitar, berputra:
14. Mbah Nyai Tsamaniyyah (istri dari Mbah Kyai Imam Muhtar atau Kyai Hasan Muhtar, Kerjen, Srengat, Blitar), berputra:
15. Mbah Nyai Artijah (istri dari Mbah Muhammad Thahir dari Wonodadi) dan bermukim di Kerjen, Srengat, Blitar, berputra;
16. Mbah Tamam Thahir (suami dari Nyai Siti Rofiah Sekardangan, Kanigoro, Blitar).

Sementara itu, silsilah nasab Mbah Tamam Thahir dari jalur Mbah Nyai Syakban Jarakan, juga bertemu saudara pula. Berikut silsilah nasab Mbah Tamam Thahir dari jalur Mbah Nyai Syakban Jarakan (yakni; istri Mbah Kyai Muhammad Syakban/ Mbah Syakban Gembrang Serang/ Mbah Syakban Tumbu) yang makamnya berada di Pemakaman Umum desa Jarakan, Gondang, Tulungagung:

1.    Sunan Ampel (Raden Rahmatullah/ Haji Bong Swie Hoo) + Dewi Karimah binti Ki Ageng Kembang Kuning Surabaya, berputra:
2.    Pangeran Tumapel (Sayyid Maulana Hamzah), berputra:
3.    Sunan Tembayat (Sayyid Hasan Nawawi/ Jaka Supang/ Jaka Pameling/ Pangeran Mangkubumi/ Ki Ageng Padang Aran II/ Raden Wahyu Widayat/ Empu Windu Jati/ Pangeran Pamungkas/ Sunan Pamungkas/ Sunan Gunung Jabalkat) + Nyai Kaliwungu binti Bathoro Kathong, berputra:
4.    Raden Panembahan Djiwo (Sayyid Raden Ishaq) Ing Tembayat, berputra:
5.    Panembahan Minang Kabul Ing Tembayat, berputra:
6.    Pangeran Ragil Kuning, Wonokerto, Ponorogo, berputra:
7.    Pangeran Wongsodriyo, berputra:
8.    Kyai Raden Nojo/Noyo Semanding, berputra:
9.    Kyai Raden Donopuro (guru dari Kyai Ageng Muhammad Besari/ Kasan Besari I Ponorogo), berputra:
10. Mbah Kyai Mangun Witono/ Sayyid Hasan Ghozali, makamnya berada di belakang “Masjid Tiban Al-Istimrar” Kauman, Kalangbret, Tulungagung, berputra:
11. Mbah Kyai Nur Ali Rahmatullah, berputra:
12. Mbah Kyai Ali Muntoho (cikal-bakal desa Jarakan, Gondang, Tulungagung), berputra:
13. Nyai Syakban makamnya berada di Pemakaman Jarakan, Gondang, Tulungagung (istri dari Mbah Kyai Muhammad Syakban/ Mbah Syakban Gembrang Serang/ Mbah Syakban Tumbu bin Kyai Muhammad Qosim Penghulu Pertama Blitar), berputra:
14. Mbah Kyai Muhammad Asrori pendiri “Masjid Al-Asror” Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat, Blitar (suami dari Nyai Haditsah Binti Muhammad Yunus Srengat), berputra:
15. Mbah Nyai Tsamaniyyah (istri dari Mbah Kyai Hasan Muhtar, Kerjen, Srengat, Blitar), berputra;
16. Mbah Nyai Artijah (istri dari Mbah Muhammad Thahir dari Wonodadi, Srengat, Blitar) dan bermukim di Kerjen, Srengat, Blitar, berputra:
17. Mbah Tamam Thahir (suami dari Nyai Siti Rofiah Sekardangan, Kanigoro, Blitar).

Silsilah nasab tersebut diadopsi dari berbagai sumber dengan pengurutan generasi ke generasi seperlunya, di antaranya dari: (1) Lembaran Silsilah “Keluarga Kyai Raden Muhammad Qosim/ Eyang Kasiman” yang tersimpan di Yayasan Kyai Raden Muhammad Kasiman sebelah Utara Masjid Agung Kota Blitar; (2) Buku berjudul “Silsilah Sunan Tembayat Hingga Syaikh Muhammad Sya’ban Al-Husaini” karya Abu Naufal bin Tamam At-Thahir; (3) Buku berjudul “Ranji Walisongo Jilid IV: Mengungkap Fakta, Meluruskan Sejarah” karya Raden Ayu Linawati dan disusun oleh Mas Muhammad Shohir Izza Solo, Jawa Tengah; (4) Buku berjudul “Silsilah Nasab Kyai Soeroredjo Kauman Blitar” karya Arif Muzayin Shofwan dan Putu Ari Sudana; serta Lembaran berjudul “Sejarah Singkat Mbah Kyai Asror Pakisrejo, Srengat” yang dikeluarkan pada tanggal 15 Juli 1984.

          Akhir kata, mungkin hanya ini catatan harian (cahar) saya kali ini. Cahar ini hanya sebagai pengisi waktu di kala tidak ada kegiatan-kegiatan yang lebih penting difokuskan. Jadi, karena sifatnya hanya sebagai catatan harian berdasarkan hobi saya dalam mengkaji sejarah berbagai orang tua, maka bila ada yang kurang komplit dalam hal ini, saya minta maaf yang sebesar-besarnya khususnya kepada diri saya pribadi. Jadi, “SAYA MEMINTA MAAF KEPADA DIRI SAYA PRIBADI. DAN ALHAMDULILLAH DIRI SAYA PRIBADI MEMAAFKAN KESALAHAN SAYA”. Yah, suatu nikmat yang luar biasa apabila diri kita sendiri bisa memaafkan diri kita. Diri saya sendiri bisa memaafkan diri saya sendiri. Yah, Semoga dusun Sekardangan, sebuah tempat bersejarah yang telah melahirkan manusia seperti saya, selalu diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Aamiin.

“If you can dream it you can do it”
(Jika kamu dapat bermimpi, kamu dapat melakukannya)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)

Arif Muzayin Shofwan ketika ziarah ke makam Mbah Tamam Thahir lagi dipotret oleh Mbah Jawoko (Dokumentasi, 2017)
 
Arif Muzayin Shofwan ketika bertahlil di makam Mbah Tamam Thahir dan dipotret oleh Mbah Jawoko (Dokumentasi, 2017)
 
Arif Muzayin Shofwan ketika bertahlil di pusara makam Mbah Tamam Thahir dan dipotret oleh Mbah Jawoko (Dokumentasi, 2017)
Arif Muzayin Shofwan sedang bertahlil di pusara makam Mbah Tamam Thahir dan dipotret oleh Mbah Jawoko (Dokumentasi, 2017)
Arif Muzayin Shofwan sedang bertahlil di makam Mbah Tamam Thahir dan dipotret oleh Mbah Jawoko (Dokumentasi, 2017)
 
Arif Muzayin Shofwan sedang bertahlil di pusara makam Mbah Tamam Thahir dan dipotret oleh Mbah Jawoko (Dokumentasi, 2017)
Makam Mbah Umi Kulsum binti Kyai Haji Ahmad Dasuqi (Dokumentasi, 2017)
 

Tentang Penulis

Arif Muzayin Shofwan, seorang pria ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria ini pada akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 bersama kawan-kawannya (seperti Yaoma Tertibi, SH., Winarto, M.Pd.I., Lussy Ana Anggarani, M.Pd., Alfiah, SE., Eka Rahmawati, M.Pd., Mohammad Miftakhul Rochman, M.Pd., Muhammad Zainal Abidin, M.Ag dan lainnya) tercatat sebagai Tim Pendiri Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar dengan empat program studi, antara lain: (1) Prodi Hukum Tata Keluarga Islam; (2) Prodi Perbankan Syariah; (3) Prodi Komunikasi Penyiaran Islam; dan (4) Prodi Ekonomi Islam. Selain itu, pria pecinta teh ini juga merupakan penggagas pertama Pusat Studi Desa dan Pemberdayaan Masyarakat (PUSDEMAS) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar bersama Yaoma Tertibi, SH. Pria yang yang sering mengikuti berbagai kajian kebebasan beragama dan HAM serta diskusi lintas agama baik lokal maupun nasional tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.

Jumat, 02 Juni 2017

SAYA DIHUBUNGI SALAH SATU PENGURUS ISHARI DESA/KECAMATAN LOA JANAN ULU KABUPATEN KUTAI KERTANEGARA, KALTIM



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

 “Ketika bincang-bincang pada malam hari di rumah Mbah Kyai Muhammad Sholeh Trebang Sekardangan bersama Mbah Kyai Kasan Syuhadak (cucu Mbah Kyai Abu Bakar), Gus Ahmad Fathoni, dan Gus Ahmad Dardiri, sambil menikmati wedang Kopi, saya dihubungi oleh Bapak Bambang Setiono (salah satu pengurus ISHARI) dari Samarinda, Kalimantan Timur.” (Shofwan, 2017)

          Pada hari Jum’at, 02 Juni 2017 (malam hari sekitar pukul 20.00 WIB), bertepatan dengan acara “Ngunggahne Omahe Mbah Kyai Muhammad Sholeh Trebang”, ya berada di rumah beliau ini, saya dihubungi Bapak Bambang Setiono dari Samarinda, Kalimantan Timur. Saat itu, saya sedang asyik ngobrol bersama Mbah Kyai Muhammad Sholeh Trebang, Mbah Kyai Kasan Syuhadak, Gus Ahmad Fathoni, dan Gus Ahmad Dardiri. Yah, malam hari ini saya berempat membicarakan masalah hukum-hukum agama Islam, mulai puasa Ramadhan, makanan halal-haram, dan lain sebagainya. Ketika menghubungi saya, Bapak Bambang Setiono Samarinda menanyakan tentang Ketua/Pimpinan Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (ISHARI) Propinsi Jawa Timur yang bernama Kyai Yusuf Arif. Hehehe, ada istilah “Arif”-nya sama dengan saya. Tapi lebih ngalim sana. Hehehe.

          Yah, malam itu pula Bapak Bambang Setiono Samarinda juga memberikan info bahwa Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (ISHARI) Samarinda sudah berdiri. Beliau juga mengatakan akan mengirimkan bukti-bukti/dokumen-dokumen tentang berdirinya ISHARI Samarinda tersebut melalui WA saya. Terus terang, saya juga ikut bahagia atas kebahagiaan Bapak Bambang Setiono dan warga ISHARI Samarinda. Begitu pula, melalui kiriman WA-nya, Bapak Bambang Setiono Samarinda mengatakan bahwa beliau juga pernah ke rumah Mbah Kyai Muhammad Sholeh Trebang Sekardangan-Blitar, sekaligus menyatakan bahwa trebang ISHARI Samarinda juga berasal dari Mbah Kyai Muhammad Sholeh Trebang Sekardangan-Blitar tersebut. Wah, alhamdulillahirabbil Alamin.

          Selain itu, Bapak Bambang Setiono melalui WA-nya juga mengatakan kepada saya, setelah saya memberi nomer HP/WA milik Kyai Yusuf Arif (Ketua ISHARI Jawa Timur) begini: “Who inggih matur nuwun Gus, kemaren saat Muktamar NU di Jombang, ISHARI di alon-alon kota dengan jumlah trebang 1926 (rekor Muri), kulo nggih ikut nderek lan ingkang mbawak KH. Mahmud...! Utusan saking Kaltim mekaten.” Begitu pula, Bapak Bambang Setiono juga mengirimkan foto-foto Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (ISHARI) Samarinda, Kalimantan Timur, foto beliau dan istrinya saat bersama Bapak dan Ibu Walikota Samarinda, dan lainnya. (Lihat nanti di bagian bawah akan saya lampirkan satu-persatu beserta keterangannya). Yah, doa saya semoga pertemuan ini merupakan pertemuan yang berkah. Amin.

 Begitulah kiranya apa yang dapat saya ceritakan pada malam ini, mungkin ini saja catatan harian (cahar) saya hari ini. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberkati apa yang saya tulis ini. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengasih selalu mengasihi semua hamba-Nya. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengampun selalu mengampuni kesalahan saya dalam menulis catatan harian (cahar) saya ini. Mudah-mudahan pertemuan saya dengan Bapak Bambang Setiono (salah satu pengurus ISHARI Samarinda), selalu membawa berkah sepanjang zaman, di kehidupan dunia dan akhirat. Amin, amin, amin, Yaa Rabbal Alamiin.

Catatan: Bapak Bambang Setiono mengatakan kepada saya begini: "Di Kutai Kartanegara Kaltim Pak Ustadz..., wonten makome Hadratus Syaikh Al-Yahya, yaitu buyutnya Habib Lutfi Pekalongan Bin Hasyim Bin Ali Bin Yahya. Dan Habib Lutfi biasanya mboten berkenan hadrohan ISHARI di Masjid Jamik Agung Tenggarong tetapi menawi hadrohan ISHARI pasti nyuwun di Masjid Kuno Dalem Kedaton, mekaten informasinipun". Wah terima kasih infonya Pak Bambang Setiono.

 “If you can dream it you can do it”
(Jika kamu dapat bermimpi, kamu dapat melakukannya)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)

Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (ISHARI) Kalimantan Timur telah dilantik oleh PC. NU Kabupaten Kukar di Pondok Pesantren Al-Muhajirin NU (Kiriman melalui WA dari Bapak Bambang Setiono, 2017)
 
Susunan Para Pengurus ISHARI kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kiriman melalui WA dari Bapak Bambang Setiono Samarinda, 2017)
Foto para Pengurus ISHARI Samarinda, Kalimantan Timur (Dokumentasi kiriman melalui WA dari Bapak Bambang Setiono Samarinda, 2017)
 
Foto rutinan hadrah ISHARI Samarinda setiap dua minggu sekali terdiri dari tiga kecamatan se-kota Samarinda (Dokumentasi kiriman Bapak Bambang Setiono Samarinda, 2017)
 
Berbaju merah adalah Walikota Samarinda, Kaltim plus istrinya dan Berjas hitam Bapak Bambang Setiono dan istrinya (Dokumentasi kiriman melalui WA dari Bapak Bambang Setiono, 2017)
Bapak Bambang Setiono bersama Bapak Drs. H. Hanif Dakhiri, M.Si (Menteri Tenaga Kerja) yang juga pengurus PB NU dan anggota kehormatan ISHARI dan dari PKB (Keterangan dari Bapak Bambang Setiono, 2017)
 
Serah terima Panji Kebesaran (Pataka) Bendera ISHARI oleh ketua PC NU kepada ketua ISHARI kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Dokumentasi dari Bapak Bambang Setiono melalui WA, 2017)
 
Kata Bapak Bambang Setiono kepada saya: "Mriki NU-nya besar dan bangunan kantornya terpadu satu pelayanan (Syuriah, Tanfidz, Ishari, Fatayat, Muslimat, GP Ansor, Ma'arif) dan lain-lain satu gedung Gus... Data statistik muslim NU 87 persen... "

 
Kata Bapak Bambang Setiono kepada saya: "Meniko struktur ISHARI Kaltim yang nembe berdiri empat tahun yang lalu, mekaten..." (Bersambung bawah)

 
Sambungan dari Struktur ISHARI di atas (Dokumentasi dari Bapak Bambang Setiono melalui WA, 2017)

Tentang Penulis

Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang telah memperoleh gelar Doktor Pendidikan Agama Islam dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria ini pada akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 bersama kawan-kawannya (seperti Yaoma Tertibi, SH., Winarto, M.Pd.I., Lussy Ana Anggarani, M.Pd., Alfiah, SE., Eka Rahmawati, M.Pd., Mohammad Miftakhul Rochman, M.Pd., Muhammad Zainal Abidin, M.Ag dan lainnya) tercatat sebagai Tim Pendiri Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar dengan empat program studi, antara lain: (1) Prodi Hukum Tata Keluarga Islam; (2) Prodi Perbankan Syariah; (3) Prodi Komunikasi Penyiaran Islam; dan (4) Prodi Ekonomi Islam. Selain itu, pria pecinta teh ini juga merupakan penggagas pertama Pusat Studi Desa dan Pemberdayaan Masyarakat (PUSDEMAS) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar bersama Yaoma Tertibi, SH. Pria yang yang sering mengikuti berbagai kajian kebebasan beragama dan HAM serta diskusi lintas agama baik lokal maupun nasional tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.

Kamis, 01 Juni 2017

MBAH JAWOKO DAN GUS GATOT ZIARAH KE MAKAM SAYYID BUKHORI MUKMIN/KYAI PONCO SUWIRYA DAN KYAI AGENG SINGOMORO



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

 “Jasad Sayyid Bukhori Mukmin/Kyai Ponco Suwiryo dimakamkan di Pemakaman Auliya Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar. Sedangkan jasad Kyai Ageng Singomoro dimakamkan di Ngaglik, Maron, Blitar.”

(Shofwan, 2017)

          Pada hari Senin, 29 Mei 2017, Mbah Jawoko Jatimalang dan Gus Gatot Wisnu Wardana berziarah ke makam Sayyid Bukhori Mukmin/Kyai Ponco Suwiryo dalam areal makam Auliya Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar. Setelah itu, keduanya berziarah ke makam Kyai Ageng Singomoro yang berada di Ngaglik, Maron, Blitar. Saat itu bertepatan dengan bulan puasa Ramadlan. Begitulah tradisi yang dilakukan Mbah Jawoko dan Gus Gatot, setiap bulan puasa Ramadhan selalau memperbanyak ritual-ritual di makam-makam auliya, membaca al-Qur’an, zikir-zikir kepada Allah, dan semacamnya. Hari itu juga saya sebenarnya diajak oleh keduanya, namun saya tidak bisa ikut acara ritual keduanya, sebab saya harus mempersiapkan pesantren Ramadlan di Pondok Pesantren Ketrampilan Miftahul Huda, Sekardangan, Papungan, Kanigoro, Blitar.

          Perlu diketahui bahwa Sayyid Bukhori Mukmin/Kyai Ponco Suwiryo merupakan ayah angkat R.M. Djojopoernomo/Pangeran Papak Natapraja, yakni seorang tokoh pendiri Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU). Jasad tokoh pendiri PAMU ini sendiri dimakamkan di daerah Tojo, Temuguruh, Genteng, Banyuwangi. Sementara itu, selain Sayyid Bukhori Mukmin/Kyai Ponco Suwiryo, di makam Auliya Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar, juga dimakamkan tokoh-tokoh berikut, antara lain:

1.    Mbah Kyai Syakban Gembrang Serang/Mbah Kyai Syakban Tumbu, merupakan putra dari Kyai Ageng Raden Muhammad Qosim (Eyang Kasiman) Sang Penghulu Blitar Pertama. Dan beliau juga merupakan cucu menantu dari Mbah Kyai Ageng Witono/Sayyid Hasan Ghozali Sang Pendiri Masjid Tiban Istimrar, Kalangbret, Kauman, Tulungagung.

2.    Mbah Kyai Hasan Mujahid (suami Nyai Marfuatun) dan menantu dari Mbah Kyai Syakban Gembrang Serang/Mbah Kyai Syakban Tumbu. Beliau juga merupakan tokoh pendiri Masjid Baitul Hasanah Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar.

3.    Mbah Kyai Muhammad Asrori, merupakan putra dari Mbah Kyai Syakban Gembrang Serang dan merupakan Pendiri Masjid dan Pesantren Al-Asror di Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat, Blitar.

4.    Dan beberapa tokoh lainnya seperti: Kyai Kembang Arum, Sayyid Abdulloh (seorang tokoh yang biasa dikhususkan Fatikah oleh Mbah Kyai Imam Hambali Arifin Sang Pendiri Majelis Dzikrul Fatihin), Sayyid Abdurrohman dan Sayyid Abdurrohim, serta Sayyid Abdurrahman Sulaiman.

Sementara itu, tak diketahui secara pasti siapa tokoh Kyai Ageng Singomoro yang dimakamkan di Ngaglik, Maron, Blitar tersebut. Tentu saja dalam hal ini saya harus segera berguru kepada Mbah Jawoko dan Gus Gatot Wisnu Wardana tentang sejarah ketokohan Kyai Ageng Singomoro tersebut. Semoga perjalanan ritual dan spiritual Mbah Jawoko dan Gus Gatot dimakam kedua tokoh tersebut selalu diberkati oleh Yang Maha Kuasa. Amin,amin, amin, Ya Rabbal Alamin.

Begitulah kiranya, mungkin ini saja catatan harian (cahar) saya hari ini. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberkati apa yang saya tulis ini. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengasih selalu mengasihi semua hamba-Nya. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengampun selalu mengampuni kesalahan saya dalam menulis catatan harian (cahar) saya ini. Mudah-mudahan kegiatan saya semuanya saja, selalu membawa berkah sepanjang zaman, di kehidupan dunia dan akhirat. Amin, amin, amin, Yaa Rabbal Alamiin.

 “If you can dream it you can do it”
(Jika kamu dapat bermimpi, kamu dapat melakukannya)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)

Gus Gatot Wisnu Wardana sedang berfoto di samping makam Sayyid Bukhori Mukmin/Kyai Ponco Suwiryo yang berada dalam areal makam Auliya Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar. Di areal makam ini juga banyak tokoh yang dimakamkan seperti: Kyai Syakban Gembrang Serang, Kyai Hasan Mujahid, Kyai Muhammad Asrori, Sayyid Abdulloh, Kyai Kembang Arum, dan lain sebagainya (Dokumentasi Mbah Jawoko, 2017)
Mbah Jawoko dan Gus Gatot Wisnu Wardana juga berziarah ke makam Kyai Ageng Singomoro yang berada di Ngaglik, Maron, Blitar (Dokumentasi Mbah Jawoko, 2017)

Tentang Penulis

Arif Muzayin Shofwan, seorang pria ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria ini pada akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 bersama kawan-kawannya (seperti Yaoma Tertibi, SH., Winarto, M.Pd.I., Lussy Ana Anggarani, M.Pd., Alfiah, SE., Eka Rahmawati, M.Pd., Mohammad Miftakhul Rochman, M.Pd., Muhammad Zainal Abidin, M.Ag dan lainnya) tercatat sebagai Tim Pendiri Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar dengan empat program studi, antara lain: (1) Prodi Hukum Tata Keluarga Islam; (2) Prodi Perbankan Syariah; (3) Prodi Komunikasi Penyiaran Islam; dan (4) Prodi Ekonomi Islam. Selain itu, pria pecinta teh ini juga merupakan penggagas pertama Pusat Studi Desa dan Pemberdayaan Masyarakat (PUSDEMAS) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar bersama Yaoma Tertibi, SH. Pria yang yang sering mengikuti berbagai kajian kebebasan beragama dan HAM serta diskusi lintas agama baik lokal maupun nasional tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.