Jumat, 05 Mei 2017

ZIARAH KE PETILASAN RARA SARI ONCE, MBAH KYAI SYAMSURI (DOGONG, KANIGORO, BLITAR), PENDAK-2 BAPAK KOPRI SETYAWASANA (KELURAHAN BLITAR), DAN DISKUSI DI RUMAH SAYA



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

 “Tulislah apapun yang bisa Anda tulis, siapa tahu bermanfaat bagi orang lain. Dan berdoalah mudah-mudahan tulisan Anda berkah.”
(Shofwan, 2017)

          Hari Jumat, 05 Mei 2017, usai shalat Ashar, saya diajak Mbah Jawoko berziarah ke Petilasan Rara Sekar Rinonce, Nyai Gadhung Melati, dan Ki Kebo Kanigoro di desa Dogong, Kanigoro, Blitar. Petilasan tersebut berada di areal makam Dogong dekat sungai Berantas. Mbah Jawoko berkata: “Kira-kira jaman ndisik wong telu sak balane iku liwat kidul kali Berantas, terus nyebrang ning kene iki. Tapi yen ning spiritualku, sakdurunge wong telu iku ning kene, kene wis ono uwong sing nulung deweke. Lan ora wong telu kuwi thok lho Gus pas mrene. Dadi wong akeh, sak punggawane. Wong yo nggawa gawan-gawan oakeh kok. Lha iki, wong sing nulung rombongan tiga tokoh tersebut, makame yo ning kene kok. Manggene ning sisih kidul...” Lanjut Mbah Jawoko bahwa yang namanya Rara Sari Once (Rara Sekar Rinonce/Rara Tenggok/Endang Widuri) kuwi wonge pawakane cilik duwur, rambute lurus, jan oayu kok. Oya, petilasan Dogong itu dulu ditandai dengan Pohon Jati, namun saat ini pohon tersebut telah mati dan diganti dengan sebuah monumen untuk mengenang ketiganya.

          Tak hanya itu saja, Mbah Jawoko juga menyatakan bahwa di sebelah Selatan desa Dogong (Selatan Sungai Berantas) juga terdapat petilasan ketiga tokoh tersebut yang juga dirawat oleh masyarakat desa Parakan, kecamatan Kademangan. Berdasarkan hal inilah Mbah Jawoko menyimpulkan bahwa ketiga tokoh tersebut dulu nyebrang sungai Berantas dari desa Parakan, kecamatan Kademangan, hingga sampai ke desa Dogong, kecamatan Kanigoro. Terus ketiga tokoh tersebut sampailah ke berbagai daerah di antaranya “Petilasan Jatikurung” yang berada tepat di tengah kecamatan Kanigoro, dekat POM Bensin. Dan nama kecamatan “Kanigoro” ini diambil dari nama Ki Kebo Kanigoro tersebut. Dan “Petilasan Jatikurung” tersebut dulu merupakan rumah joglo sebagai tempat kediaman ketiga tokoh tersebut. Dan para punggawanya banyak tersebar di wilayah kecamatan Kanigoro dan sekitaranya. Bahkan ada yang di luar kecamatan Kanigoro.

          Usai berziarah ke petilasan tersebut, saya dan Mbah Jawoko berziarah ke makam Mbah Kyai Syamsuri yang juga berada di areal makam Dogong tersebut. Selain itu, kami berdua saya juga berziarah ke makam sesepuh desa Dogong yang berada di cungkup paling besar. Saya katakan kepada Mbah Jawoko bahwa makam-makam sesepuh yang dicungkup besar itu merupakan leluhur dari Mbah Bayan Mayar yang sejak dulu kala dari ayahnya Mbah Markalam yang telah merawat “Petilasan Eyang Sekardangan”, Kanigoro, Blitar. Dan sebenarnya, yang disebut “Eyang Sekardangan” adalah iya ketiga tokoh tersebut. Dan rata-rata, petilasan ketiga tokoh tersebut dulu selalu ditandai dengan Pohon Jati, termasuk di antaranya: Petilasan Jatigerot (Maliran, Ponggok, Blitar); Petilasan Jatikucur (Sumberkucur, Selokajang, Srengat, Blitar); Petilasan Jati Bedug (Samin, Jateng); dan makamnya juga berada di desa Jatingarang, kecamatan Weru, kabupaten Sukoharjo-Solo. Semuanya kebanyakan ditandai Pohon Jati.

Setelah berziarah, Mbah Jawoko lalu mengajak saya pergi ke rumah kawannya yang pada hari tersebut pendakan ke-2. Kawan tersebut bernama Kopri Setyawasana (alm) yang berada di kelurahan Blitar, kota Blitar. Pukul 17.00 WIB, kami berdua sampai ke rumah Bapak Kopri Setyawasana (alm), lalu Mbah Jawoko bersama keluarga mendiang nyekar ke makam Bapak Kopri. Saya tidak ikut acara nyekar tersebut. Saat Magrib tiba, mereka sudah pulang dari nyekar. Saya dipersilahkan makan oleh pihak keluarga di dapurnya. Setelah makan, saya lalu menuju Mushalla Al-Hidayah, yakni sebuah mushalla yang didirikan oleh Keluarga Besar Eyang Amat Ngulomo di Jl. Joko Kandung, yah sekitar 50 meter dari rumah mendiang. Di mushalla tersebut saya melakukan shalat Maghrib, dan setelah itu saya kembali lagi untuk melakukan tahlil bersama undangan warga sekitar sebagai rangkaian acara dari Pendak-2 Bapak Kopri Setyawasana.

Usai tahlilan, kira-kira pukul 20.00 WIB, saya bincang-bincang dengan adik ipar Bapak Kopri Setyawasana dari Surabaya. Sedangkan Mbah Jawoko masih sibuk dengan ibunya Bapak Kopri di dapur untuk mengemas brekat yang hendak dibagikan pada sanak saudaranya. Kira-kira pukul 20.30 WIB, saya dan Mbah Jawoko pamit pulang sekaligus menghantar brekat yang sudah dikemas tersebut kepada sanak saudara Bapak Kopri Setyawasana (alm) yang berada di Blitar, Sentul, Tanggungsantren, Jatimalang, dan kemudian pulang ke rumah. Mbah Jawoko menghantar saya pulang ke rumah, sebab perginya hanya pakai satu motor. Sesampai di rumah, Mbah Jawoko ngebel Bapak Nurdin dan Mas Burhanuddin untuk diajak ngobrol-ngobrol, diskusi di rumah saya. Keduanya merupakan tetangga saya yang sudah kenal Mbah Jawoko. Kami berempat (Saya, Mbah Jawoko, Bapak Nurdin, dan Mas Burhanuddin) ngobrol ngalor-ngidul, diskusi apa saja di rumah saya sampai pukul satu malam. Setelah itu kami bubaran dan ketiganya pulang ke rumah masing-masing. (Catatan: Maaf, saya tidak menceritakan obrolan atau diskusi malam ini. Bukan karena rahasia. Tapi karena saya memang mencukupkan cahar ini dengan tanpa menceritakan diskusi malam itu.)

Yah, mungkin ini saja catatan harian (cahar) saya hari ini. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberkati pertemuan ini semua. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengasih selalu mengasihi semua hamba-Nya. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengampun selalu mengampuni kesalahan saya dalam menulis catatan harian (cahar) saya ini. Mudah-mudahan kegiatan saya hari ini (mulai dari berziarah ke Petilasan Rara Sari Once/ Rara Sekar Rinonce/ Rara Tenggok; Nyai Gadhung Melati; Ki Kebo Kanigoro; ziarah makam Mbah Kyai Syamsuri; ziarah makam sesepuh di desa Dogong, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar; menghadiri tahlilan pendak-2 Bapak Kopri Setyawasana di kelurahan Blitar; dan diskusi malam hari di rumah saya)  tersebut selalu membawa berkah sepanjang zaman, di kehidupan dunia dan akhirat. Amin, amin, amin, Yaa Rabbal Alamiin.

 “If you can dream it you can do it”
(Jika kamu dapat bermimpi, kamu dapat melakukannya)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)

Cikal-Bakal Desa Dogong dan Lainnya
"Tiga tokoh yakni: (1) Rara Sari Once (Rara Sekar Rinonce/Rara Tenggok/Rara Endang Widuri), (2) Nyai Gadhung Melati (Nyai Sekardinah), (3) Ki Kebo Kanigoro (Kyai Purwoto Sidik) dan Para Bala-balanya inilah yang konon dianggap sebagai cikal-bakal/dhanyangan desa Dogong, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar, dan berbagai desa dan dusun di wilayah kecamatan Kanigoro dan lainnya"

 
Petilasan Rara Sari Once, Nyai Gadhung Melati, Ki Kebo Kanigoro dan para bala-balanya di areal Pemakaman desa Dogong, Kanigoro, Blitar (Dokumentasi, 2017)
 
Mbah Jawoko sedang tafakur/meditasi di Monumen Petilasan Rara Sari Once, Nyai Gadhung Melati, Ki Kebo Kanigoro, dan para bala-balanya dalam areal Pemakaman desa Dogong, Kanigoro, Blitar (Dokumentasi, 2017)
 
Monumen Petilasan Rara Sari Once, Nyai Gadhung Melati, Ki Kebo Kanigoro, dan para bala-balanya dalam areal Pemakaman Dogong, Kanigoro, Blitar, tampak dari dekat (Dokumentasi, 2017)
 
Tulisan Makam Pasarean Mbah Kyai Syamsuri di Pemakaman Dogong, Kanigoro, Blitar (Dokumentasi, 2017)
 
Makam Mbah Kyai Syamsuri berada di areal Pemakaman Dogong, Kanigoro, Blitar (Dokumentasi, 2017)
 
Makam sesepuh desa Dogong, Kanigoro, Blitar. Tampak Mbah Jawoko sedang mempelajari situs-situs tersebut (Dokumentasi, 2017)
 
Tulisan yang terpampang di makam sesepuh desa Dogong, Kanigoro, Blitar: "YEN ONO RUSAKE UTOWO TAMBAL SULAM, ANAK PUTUKU UTOWO BUYUTKU SUPOYO ANDADANI MURIH BECIKE", dan di atasnya ada tulisan Jawa Hanacaraka (Dokumentasi, 2017)
 
Di pojokan Jl. Joko Kandung Gang 1, Kode Pos 66123 inilah rumah Bapak Kopri Setyawasana (alm) diadakan Pendak-2 acara tahlilan (Dokumentasi, 2017)
Di Mushalla Al-Hidayah yang didirikan oleh Keluarga Eyang Amat Ngulomo, Kelurahan Blitar, Jl. Joko Kandung Gang 1 inilah saya melakukan shalat Maghrib (Dokumentasi, 2017)

Tentang Penulis

Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria ini pada akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 bersama kawan-kawannya (seperti Yaoma Tertibi, SH., Winarto, M.Pd.I., Lussy Ana Anggarani, M.Pd., Alfiah, SE., Eka Rahmawati, M.Pd., Mohammad Miftakhul Rochman, M.Pd., Muhammad Zainal Abidin, M.Ag dan lainnya) tercatat sebagai Tim Pendiri Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar dengan empat program studi, antara lain: (1) Prodi Hukum Tata Keluarga Islam; (2) Prodi Perbankan Syariah; (3) Prodi Komunikasi Penyiaran Islam; dan (4) Prodi Ekonomi Islam. Selain itu, pria pecinta teh ini juga merupakan penggagas pertama Pusat Studi Desa dan Pemberdayaan Masyarakat (PUSDEMAS) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar bersama Yaoma Tertibi, SH. Pria yang yang sering mengikuti berbagai kajian kebebasan beragama dan HAM serta diskusi lintas agama baik lokal maupun nasional tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.

Kamis, 04 Mei 2017

SILSILAH NASAB NYAI CHOIRUDDIN BINTI KYAI RADEN TAKLIM PENGHULU SRENGAT, BLITAR, JAWA TIMUR



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

 “Tulislah apapun yang bisa Anda tulis, siapa tahu bermanfaat. Dan selalu berdoalah, semoga setiap apapun yang Anda tulis akan memberikan manfaat bagi orang-orang yang membutuhkan serta menjadi berkah bagi mereka semua.”
(Shofwan, 2017)

Hari Kamis, 04 Mei 2017 saya dapat WA dari salah seorang keturunan Nyai Choiruddin binti Kyai Raden Taklim Penghulu Srengat, Blitar, yang bermana Bapak Ainal Tulungaung. Beliau menanyakan kepada saya tentang siapa saja keturunan dari Nyai Choiruddin binti Kyai Raden Taklim Penghulu Srengat, Blitar. Lalu saya katakan bahwa Nyai Choiruddin merupakan putra dari Kyai Raden Taklim Penghulu Srengat, Blitar. Yah, hanya sampai inilah data yang saya miliki. Siapa tahu ada orang yang menyimpan data-data silsilah Nyai Choiruddin ke bawah. Dalam data yang saya simpan, disebutkan bahwa Kyai Raden Taklim Penghulu Srengat memiliki beberapa anak berikut, antara lain:

1.    Kyai Raden Rembang Blitar, yakni tokoh yang konon cikal bakal Rembang Kota Blitar di Era Mataraman. (Saya katakan beliau ini cikal-bakal Era Mataraman, bukan Era Majapahitan atau di atasnya lagi lho?. Jadi, tentu saja masih ada tokoh yang cikal-bakal di atas beliau. Sebab bumi ini hanya digunakan secara bergantian dari satu generasi ke generasi berikutnya.)
2.    Kyai Raden Mohammad Qosim (Eyang Kasiman), yang merupakan cikal-bakal Masjid Agung Kota Blitar. Beliau ini merupakan Penghulu I (Pertama) Blitar. Adapun yayasan Kyai Raden Mohammad Kasiman berada di Utara Masjid Agung Kota Blitar yang dulu merupakan “Pendopo Pangulon” (pendopo para penghulu Blitar). Sebuah yayasan sosial yang biasanya menyantuni anak-anak yatim piatu.
3.    Nyai Choiruddin Srengat, dan silsilah inilah yang ditanyakan oleh saudara Bapak Ainal yang berada di Tulungagung di atas.
4.    Kyai Raden Muhammad Yahya Ponorogo (Saudara yang pernah menelusuri petilasan makam tokoh ini adalah Gus Gatot Wisnu Wardana yang berada di Purwokerto, Srengat, Blitar).

Yah, dalam data yang saya bawa, ke-4 orang di atas inilah yang merupakan putra-putri dari Kyai Raden Taklim Penghulu Srengat. Saya juga tidak tahu, apakah masih ada putra-putri yang lain selain data-data yang saya sebutkan.

Nama dari saudara di Tulungagung yang bertanya pada saya bernama Bapak Ainal, yah Bapak Ainal. Beliau dulu juga pernah bertanya kepada Bapak Tranggono dan Bapak Sunu di Blitar, namun keduanya juga tidak mengetahui apa yang ditanyakan. Dalam hal ini, Bapak Ainal mungkin bisa bertanya kepada Gus Hairi Mustofa Pendiri “Padhepokan Pusaka Sunan Tembayat” Srengat, Blitar. Adapun silsilah nasab Nyai Choiruddin binti Kyai Raden Taklim Srengat, Blitar, adalah beliau merupakan trah keturunan dari Sunan Tembayat (Sayyid Hasan Nawawi), Klaten, Jawa Tengah dan Sunan Ampel (Haji Bong Swe Hoo) Surabaya. Yah, seputar inilah bincang-bincang saya dalam sarasehan tersebut. Berikut merupakan silsilah Nyai Choiruddin binti Kyai Raden Taklim Srengat, Blitar, Jawa Timur:

1.    Raden Rahmatullah (Sunan Ampel/Haji Bong Swe Hoo), berputra:
2.    Raden Maulana Hamzah (Lamongan), berputra:
3.    Raden Hasan Nawawi (Sunan Tembayat/ Sunan Pandanaran II), berputra:
4.    Raden Ishaq Panembahan Jiwo, berputra:
5.    Raden Panembahan Minang Kabul, berputra:
6.    Pangeran Ragil Kuning Wonokerto Ponorogo, berputra:
7.    Kyai Pangeran Wongsodriyo, berputra:
8.    Kyai Raden Nojo Semanding, berputra:
9.    Kyai Raden Donopuro (guru Kyai Muhammad Besari), Sentono, Jetis, Ponorogo, berputra:
10. Kyai Raden Taklim Penghulu Srengat, Blitar, berputra:
11. Nyai Choiruddin Srengat Blitar, memiliki putra-putri: (1) Kyai Raden Khatib Anom Barek; (2) Nyai Ahmad Sleman Penghulu Srengat; (3) Kyai Raden Suratman Srengat; (4) Kyai Raden Marijo Srengat.

Dalam media WA tersebut Bapak Ainal menanyakan pada saya: “Keturunan Nyai Ahmad Sleman siapa saja?. Saya pernah silaturrahmi ke Pak Tranggono dan Pak Sunu juga tidak tahu. Jika ada info tolong dikabari”. Lalu saya jawab: “Ya. Nanti saya kabari”. Lalu beliau bertanya lagi: “Kalau alamat Kyai Suratman dan Kyai marijo Srengat kui ndek Srengat di mana Mas?”. Jawab saya: “Lha saya belum tahu ini. Srengat biasanya Kauman kalau era-era itu”. Itulah akhir jawaban saya pada hari tersebut kepada Bapak Ainal Tulungagung. Dalam hati saya berdoa, mudah-mudahan Bapak Ainal Tulungagung segera menemukan data yang beliu harapkan. (Catatan: dalam hal ini saya sebenarnya ingin merekomendasikan Bapak Ainal untuk bertanya kepada Gus Hairi Mustofa di “Padepokan Pusaka Sunan Tembayat” yang berada di Selatan Pasar Srengat, lalu ke arah Timur sedikit).

Yah, mungkin ini saja catatan harian (cahar) saya tentang Nyai Choiruddin binti Kyai Raden Taklim Penghulu Srengat hari ini. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberkati pertemuan saya dengan Bapak Ainal walau hanya lewat media WA. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengasih selalu mengasihi semua hamba-Nya. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengampun selalu mengampuni kesalahan saya dalam menulis catatan harian (cahar) saya ini. Mudah-mudahan kegiatan saya hari ini (mulai dari membalas WA Bapak Ainal, menulis cahar, dan apapun yang baik-baik) tersebut selalu membawa berkah sepanjang zaman, di kehidupan dunia dan akhirat. Amin, amin, amin, Yaa Rabbal Alamiin. 


 “If you can dream it you can do it”
(Jika kamu dapat bermimpi, kamu dapat melakukannya)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)

 
Diskusi tentang silsilah nasab, Bapak Candra,  Mas Putu Ari Sudana, dan Arif Muzayin Shofwan (Dokumentasi, 2017)
 
Diskusi di Joglo Petilasan Mbah Saeun+Nyi Asmirah, Kauman, Kota Blitar (Dokumentasi, 2017)


Tentang Penulis

Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria ini pada akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 bersama kawan-kawannya (seperti Yaoma Tertibi, SH., Winarto, M.Pd.I., Lussy Ana Anggarani, M.Pd., Alfiah, SE., Eka Rahmawati, M.Pd., Mohammad Miftakhul Rochman, M.Pd., Muhammad Zainal Abidin, M.Ag dan lainnya) tercatat sebagai Tim Pendiri Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar dengan empat program studi, antara lain: (1) Prodi Hukum Tata Keluarga Islam; (2) Prodi Perbankan Syariah; (3) Prodi Komunikasi Penyiaran Islam; dan (4) Prodi Ekonomi Islam. Selain itu, pria pecinta teh ini juga merupakan penggagas pertama Pusat Studi Desa dan Pemberdayaan Masyarakat (PUSDEMAS) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar bersama Yaoma Tertibi, SH. Pria yang yang sering mengikuti berbagai kajian kebebasan beragama dan HAM serta diskusi lintas agama baik lokal maupun nasional tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.

Rabu, 03 Mei 2017

SARESEHAN DI JOGLO PETILASAN MBAH SAEUN+NYI ASMIRAH, KAUMAN, KOTA BLITAR, JAWA TIMUR



Oleh: Arif Muzayin Shofwan

 “Hari Rabo, 03 Mei 2017, malam Kamis, pukul 19.41 WIB, saya ikut saresehan di Joglo Petilasan Mbah Saeun+Nyi Asmirah, Kauman, Kota Blitar.”
(Shofwan, 2017)

Hari Rabo, 03 Mei 2017, Mas Putu Ari Sudana melalui Group WA Keluarga Besar Sunan Tembayat mengundang pertemuan (kopi darat) di Joglo Petilasan Mbah Saeun+Nyi Asmirah yang beralamatkan di Jl. Semeru No.97 depan Apotik Puji Sentosa, Kauman, Kota Blitar. Waktunya adalah setelah shalat Isya. Namun pada hari ini, saya memang kudu/harus memimpin rapat RT 03 di dusun Sekardangan, sehingga saya bilang pada Mas Putu Ari Sudana begini: “Semoga saya nanti bisa hadir Mas. Tapi agak malam. Mudah-mudahan nanti malam ketemu sesepuh, pinisepuh, sehingga bisa ngangsu kaweruh.” Jawab Mas Putu Ari Sudana: “Ya mas.” Di lain pihak, Mas Hariyanto melalui group WA tersebut juga izin tidak bisa ikut saresehan sebab ada acara di Tulungagung. (Catatan: lihat foto kami ketika saresehan di Joglo Petilasan Mbah Saeun+Nyai Asmirah di bawah).

Usai saya memimpin rapat RT 03 di dusun Sekardangan, saya kemudian segera meluncur ke Joglo Petilasan Mbah Saeun+Nyi Asmirah yang dimaksud. Tampak di tempat tersebut sudah disediakan wedang kopi, teh, opak kebo beserta sambelnya, berbagai macam gorengan, air putih, kacang godog, dan semacamnya. Setelah bincang-bincang sebentar, saya disuguhi teh manis dan dipersilahkan menikmati hidangan dan rokok yang telah tersedia. Sambil mengawali perbincangan, kami memperbincangkan hal-hal yang ringan, mulai pekerjaan, keluarga, tempat tinggal dan semacamnya. Selanjutnya, saya juga bertanya apakah Mbah Saeun meninggalkan benda-benda antik. Ternyata, Mbah Saeun meninggalkan tombak luk tiga. Konon tombak luk tiga itu tangguh Mataram. Dan ada lagi, keris luk empat. Saya agak heran, keris kok luk genap, padahal biasanya keris itu luk-nya ganjil. (Catatan: hadir dalam acara saresehan tersebut, di antaranya: Saya, Mas Putu Ari Sudana, Mas Zaenal, Bapak Wahyono, Bapak Yanto, Mas Bowo, dan Mas Joko).

Selain membicarakan hal di atas kami juga membicarakan silsilah nasab ke atas, mulai dari trah Kyai Raden Muhammad Kasiman (Eyang Kasiman), Eyang Raden Ngabehi Wirogati, Mbah Soeroredjo (Mbah Imam Redjo) dan Nyai Muntinah istrinya, Mbah Kyai Raden Sya’ban Gembrang Serang Srengat, Mbah Saeun dan Nyai Asmirah istrinya, dan lain sebagainya. Dalam saresehan atau diskusi tersebut, dinyatakan kalau silsilah nasab Mbah Saeun ke atas masih belum bisa diketahui secara pasti. Namun kalau silsilah Nyai Asmirah (istrinya Mbah Saeun) sudah bisa diketahui bahwa beliau trah dari Sunan Tembayat (Sayyid Hasan Nawawi), Klaten, Jawa Tengah dan Sunan Ampel (Haji Bong Swe Hoo) Surabaya. Yah, seputar inilah bincang-bincang saya dalam sarasehan tersebut. Berikut merupakan silsilah Nyai Asmirah (istri Mbah Saeun), Kauman, Kota Blitar:

1.    Raden Rahmatullah (Sunan Ampel/Haji Bong Swe Hoo), berputra:
2.    Raden Maulana Hamzah (Lamongan), berputra:
3.    Raden Hasan Nawawi (Sunan Tembayat/ Sunan Pandanaran II), berputra:
4.    Raden Ishaq Panembahan Jiwo, berputra:
5.    Raden Panembahan Minang Kabul, berputra:
6.    Pangeran Ragil Kuning Wonokerto Ponorogo, berputra:
7.    Kyai Pangeran Wongsodriyo, berputra:
8.    Kyai Raden Nojo Semanding, berputra:
9.    Kyai Raden Donopuro (guru Kyai Muhammad Besari), Sentono, Jetis, Ponorogo, berputra:
10. Kyai Raden Taklim Penghulu Srengat, Blitar, berputra:
11. Kyai Raden Kyai Muhammad Yahya Ponorogo, berputra:
12. Kyai Amir Kasim (Penghulu Kertosono), berputra:
13. Kyai Ali Mustofa (Jaksa Pertama Kota Blitar), berputra:
14. Nyai Hajjah Abdul Hadi (istri Kyai Haji Abdul Hadi), berputra:
15. Kyai Soeroredjo (Kyai Imam Redjo+ Nyai Muntinah), Kauman, Blitar, berputra:
16.  Nyai Asmirah (istri dari Mbah Saeun)

Jadi dalam sarasehan di Joglo Petilasan Mbah Saeun+Nyi Asmirah tersebut, saya sekaligus napak tilas nasab mereka, juga merekam sedikit jejak kehidupan mereka dan semacamnya. Konon Mbah Saeun ini dulu bekerja di bagian kereta api sebagai “tukang nyugokne geni” pada kereta api yang bahan bakarnya dari kayu perapian (Sepur Klutuk; bahasa Jawa-nya) jaman Belanda. Yah, mungkin ini saja catatan harian (cahar) saya hari ini. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberkati pertemuan ini semua. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengasih selalu mengasihi semua hamba-Nya. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Pengampun selalu mengampuni kesalahan saya dalam menulis catatan harian (cahar) saya ini. Mudah-mudahan kegiatan saya hari ini (mulai dari rapat RT. 03 dusun Sekardangan, serasehan di Joglo Petilasan Mbah Saeun+Nyi Asmirah, Kauman, Blitar dan yang saya sebutkan) tersebut selalu membawa berkah sepanjang zaman, di kehidupan dunia dan akhirat. Amin, amin, amin, Yaa Rabbal Alamiin.

 “If you can dream it you can do it”
(Jika kamu dapat bermimpi, kamu dapat melakukannya)

“Sluman, slumun, slamet. Selameto lek ngemongi jiwo rogo”
(Semoga dalam situasi dan kondisi apapun mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Yakni, selamat dalam mengasuh jiwa dan raga masing-masing)

Saresehan di Joglo Petilasan Mbah Saeun+Nyi Asmirah (Dokumentasi, 2017)
 
Saresehan di Joglo Petilasan Mbah Saeun+Nyi Asmirah (Dokumentasi, 2017)
 
Saya waktu menikmati opak kebo plus sambel pecel difoto Mas Putu Ari Sudana (Dokumentasi, 2017)
Joglo Petilasan Mbah Saeun+Nyi Asmirah di Kauman, Kota Blitar (Dokumentasi, 2017)

Tentang Penulis

Arif Muzayin Shofwan, seorang pria yang ini beralamatkan di Jl. Masjid Baitul Makmur Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan, Kanigoro, Blitar, Jawa Timur. Pria ini pada akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 bersama kawan-kawannya (seperti Yaoma Tertibi, SH., Winarto, M.Pd.I., Lussy Ana Anggarani, M.Pd., Alfiah, SE., Eka Rahmawati, M.Pd., Mohammad Miftakhul Rochman, M.Pd., Muhammad Zainal Abidin, M.Ag dan lainnya) tercatat sebagai Tim Pendiri Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar dengan empat program studi, antara lain: (1) Prodi Hukum Tata Keluarga Islam; (2) Prodi Perbankan Syariah; (3) Prodi Komunikasi Penyiaran Islam; dan (4) Prodi Ekonomi Islam. Selain itu, pria pecinta teh ini juga merupakan penggagas pertama Pusat Studi Desa dan Pemberdayaan Masyarakat (PUSDEMAS) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar bersama Yaoma Tertibi, SH. Pria yang yang sering mengikuti berbagai kajian kebebasan beragama dan HAM serta diskusi lintas agama baik lokal maupun nasional tersebut dapat dihubungi di nomor HP. 085649706399.